Banalitas Sepak Bola

 Tragis. Sepakbola Indonesia kembali menelan korban. Betapa tidak, satu Bonekmania tewas dalam kerusuhan di Gelora 10 Nopember Tambaksari Surabaya, Minggu (03/6/2012). Kasus ini melangkapi cerita kekerasan yang terjadi dalam laga Persija versus Persib di stadion Gelora Bung Karno beberapa waktu lalu. Sejumlah suporeter mengeroyok superter lainnya hingga tewas.


Sebetulnya, dua kasus di atas hanya sedikit dari sekian potret buruk wajah sepak bola nasional. Mulai dari penganiayaan wasit dan hakim garis, pemukulan pemain, tawuran antar superoter, hingga perusakan stadion dan fasilitas olah raga. Berangkat dari kondisi ini, tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa kekerasan sudah lekat dengan persepakbolaan kita.

Fakta kekerasan ini paradok dengan imaginasi dan tujuan intrinsik sepak bola itu sendiri. Sepak bola tidak hanya menjadi salah satu bentuk atau cabang olah raga, tetapi di sana ada seni, olah kemampuan, aktualisasi kecakapan mengolah si kulit bundar, hiburan, tantangan yang positif, kompetisi skill yang fair, teater drama yang bertujuan menghibur-memuaskan penonton, dan seterusnya.

Dari sejumlah imaginasi dan sasaran intrinsik tersebut, tampak jelas bahwa sepak bola merupakan kegiatan kemanusiaan. Dengan perspektif sebagai kegiatan kemanusiaan, maka sepak bola semestinya menjunjung tindakan dan perilaku yang manusiawi. Seperti apa tindakan dan perilaku yang diharapkan itu? Ya, jauh dari tindakan anarki, kekerasan, atau kerusuhan. Junjung tinggi sportivitas. Ciptakan rasa aman dan damai di antara supporter atau fans.

Tetapi ketika nilai-nilai manusiawi ini diabaikan, tidak berlebihan jika kita sebut bahwa persepakbolaan nasional masih “tidak beradab”.Para dalang dan pelaku kekerasan sepak bola, terutama supporter, tidak mampu menggunakan imaginasi manusiawinya untuk berlaku adab. Inilah yang disebut banalitas sepakbola kita.

Persoalan kekerasan ini jangan terus dibiarkan. Aparat perlu bertindak tegas terhadap siapa pun yang melakukan kekerasan. Jangan ada pembiaran. Bila perlu para perusuh atau pelaku kekrasan dilarang menonton pertandingan seumur hidup. Pihak klub juga perlu proaktif menghimbau para supoternya akan tidak bertindak anarkis.

Dalam perspektif marketing sepak bola sebagai bisnis, fans adalah aset. Karena mereka adalah aset, maka klub perlu mengelolanya, terutama mengelola mentalitas mereka agar lebih bertindak manusiawi dan beradab.

 *Tulisan ini ditayang di rubrik Kolom www.theindonesianway.com (04/06/2012)

Subscribe to receive free email updates: