Menggugat Promosi Wisata ala Tour de Flores


Ajang balap sepeda Tour de Flores (TdF) rencananya akan kembali digelar bulan Juli 2017 yang akan datang. TdF sesi kedua ini akan menempuh jarak sepanjang 721,5 km, lebih panjang dari event yang sama tahun lalu, yang hanya menempuh 661,5 km. Ada enam etape yang akan dilalui para pembalap. Jalurnya berawal dari Larantuka, melewati Maumere, Ende, Mbay, Nagekeo, Borong, Ruteng dan berakhir di Labuan Bajo.  

Sama seperti lomba pertama tahun 2016 yang lalu, TdF tahun 2017 ini tetap menyulut reaksi pro dan kontra dari banyak elemen masyarakat. Menanggapi kontroversi yang berkembang ini, dua pertanyaan yang bersangkut-paut satu sama lain berikut ini barangkali relevan untuk kita ajukan.

Sejauh mana atau sampai taraf apa kompetisi balap sepeda ini mampu mempromosikan dan mengangkat pamor pariwisata Flores? Tepatkah anggaran miliaran rupiah dari pemerintahan provinsi NTT dan pemerintahan kabupaten sedaratan Flores dan Lembata digelontorkan untuk mendukung program ini sementara ada banyak persoalan penting dan mendesak lainnya harus ditangani dan tentu membutuhkan dana?

Tidak Efektif dan Efisien

Sebagaimana diketahui, salah satu sasaran penting penyelenggaraan kompetisi balap sepeda ini adalah mempromosikan dan mengangkat pariwisata Flores. Sekilas sasaran ini tampak masuk akal. Alur nalarnya sederhana dan mudah untuk dicerna. Peserta yang diudang dan ikut berpartisipasi berasal dari puluhan negara, juga dipublikasikan oleh berbagai media lokal, nasional, dan internasional. 

Gaung kompetisi inipun diharapkan mampu menjangkau panggung dunia. Kalau sudah mendunia, Flores pun makin terkenal, terutama objek-objek wisatanya. Ketika destinasi wisatanya dikenal, peluang orang untuk mengunjungi area wisata itu semakin terbuka. Pada akhirnya, yang diharapkan adalah, ketika orang mengetahui keindahan dan keunikan lokasi wisata Flores, orang akan memutuskan untuk mengunjunginya.

Namun, apakah penjelasannya sesederhana itu? Tentu saja tidak. Kita harus ingat, logika promosi simplistis seperti itu masih berada pada tataran yang abstrak. Kita masih bisa bertanya, kira-kira berapa banyak orang yang tertarik menonton, mendengar, membaca berita TdF? Apakah itu menjadi olah raga favorit banyak orang? Berapa banyak media yang memberitakannya? Porsi beritanya seperti apa? Sedikit, sekilas saja, atau banyak? 

Lalu, apakah dua ratusan orang yang terlibat dalam perlombaan ini memberi dampak signifikan bagi promosi wisata Flores? Kalau ya, sejauh mana dampaknya? Apakah kunjungan wisatawan meningkat? Kalau meningkat, apakah mereka mendapat informasi karena dan/atau melalui peserta atau publikasi TdF? Pertanyaan-pertanyaan ini harus bisa dijawab dan dijelaskan oleh pihak penyelenggara berdasarkan data yang akurat dan terukur. Tidak semata merujuk kepada asumsi atau logika common sense. Itu berarti perlu ada riset dan survey yang komprehensif terhadap dampak dari kegiatan TdF, misalnya, TdF pertama tahun 2016 yang lalu.
 
Penyelenggara mungkin menganggap pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut terlalu naif atau mengada-ada. Sebab kegiatan TdF itu tidak lain adalah bentuk investasi jangka panjang. Dampak positif untuk wisata Flores tentu tidak bisa direguk dalam satu, dua, atau tiga tahun. Butuh waktu untuk bisa memetik dan merasakan hasilnya. Argumentasi inilah yang tampaknya telah membuai dan membius Pemprov NTT dan pemkab sedaratan Flores-Lembata.

Argumentasi seperti itu sebetulnya lumrah saja. Tapi, saya ingin tunjukan bahwa alur nalar itu tidak sepenuhnya benar dan tepa. Saya berpendapat, menempatkan TdF sebagai media promosi wisata Flores itu kurang efektif dan efisien, khususnya terkait penggunaan APBD. Dalam perspektif promosi, kegiatan tersebut justru sangat memboroskan anggaran. Mengapa? Mari kita lihat.

Sekarang adalah era digital. Teknologi telah mengubah banyak hal. Cara hidup, perilaku, dan cara berinteraksi kita berubah sejalan dengan penetrasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat dan masif. Hal yang sama terjadi pada dunia bisnis, termasuk aktivitas promosi. Keunggulan kegiatan promosi melalui teknologi digital, khususnya internet, adalah  ketersediaan data yang lebih terukur, target yang tepat sasar dan jelas, serta mampu mencapai jangkauan pasar yang jauh lebih luas. 

Kanal promosi digital ini bentuknya beragam. Sebut saja Google adword, Facebook ads, Twitter ads, Instagram ads, dan beberapa yang lainnya. Pengiklan bisa menentukan target user yang bisa dijangkau berdasarkan usia, minat/hobi, lokasi, dan profesi. Laporan data promosi bisa diperoleh secara real time. Biayanya pun jauh lebih murah. Hanya dengan biaya dua juta rupiah, misalnya, iklan bisa menjangkau (reached people) lima ratusan ribu pengguna internet.

Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi dan Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Marius Ardu Jelamu mengatakan pemerintahan provinsi dan kebupaten akan ikut membiayai event TdF. Provinsi menanggung Rp 3,4 miliar dan Pemkab sedaratan Flores/Lembata masing-masing menyiapkan anggaran antara Rp 800 juta sampai Rp 1 miliar lebih. Semua dana itu bersumber dari APBD 1 provinsi dan APBD II untuk pemerintahan kabupaten (Kompas.com, 11/02/2017). 

Jika dana APBD tersebut dialokasikan untuk digital/internet advertizing, jangkauan iklan pasti jauh lebih dasyat dan masif melampaui jangkauan promosi via TdF. Dalam konteks ini, gelontoran dana milaran dari pemprov dan pemkab sedaratan Flores untuk TdF adalah bentuk pengalokasian uang rakyat yang keliru dan sangat tidak tepat sasar. Patut pula diduga, slogan promosi wisata melalui TdF sebetulnya lebih hanya sebagai trik untuk mendapatkan dana dari pos APBD. Kita harus sadar dan ingat, business core dari TdF adalah bisnis olah raga. 

Lebih memprihatinkan lagi, penggelontoran APBD tersebut terjadi justru di tengah kenyataan bahwa 18 kabupaten di NTT dinyatakan sebagai daerah tertinggal berdasarkan Perpres No 131 Tahun 2015 Tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019. Delapan belas kabupaten ini tertinggal dalam banyak sektor, mulai dari sektor perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kemampuan keuangan daerah, aksesibiltas, hingga karakteristik daerah. 

Kemampuan APBD kita sangat terbatas, seyogyanya pemprov dan pemkab melakukan efisiensi pengeluaran. Dan penggunaan APBD harus lebih diprioritaskan untuk menangani berbagai persoalan rumit dan krusial tersebut. 

Menjual Kualitas Wisata

Selain kewajiban agar APBD digunakan secara tepat, benar, dan efisien, dalam aktivitas promosi wisata, tuntutan yang juga tidak kalah penting adalah bahwa objek-objek yang dipromosikan itu harus berkualitas. Faktor-faktor yang biasanya menentukan kualitas bisnis pariwisata antara lain daya tarik area wisata itu sendiri, fasilitas yang tersedia, kemudahan akses, jenis kegiatan wisata yang bisa dilakukan, dan juga ketersediaan sarana transportasi. 
 
Pertanyaannya, apakah destinasi wisata di daratan Flores sudah memenuhi kriteria ini? Untuk menjawab soal ini, kita cukup mengangkat persoalan wisata Labuan Bajo yang sudah ditetapkan sebagai salah satu dari sepuluh destinasi wisata unggulan di Indonesia. Walaupun sudah mendapat penghargaan sebagai daerah tujuan wisata terfavorit internasional dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, wilayah ujung barat pulau Flores ini sebetulnya masih tidak sepi dari masalah.

Menurut riset Litbang Kebijakan Kepariwisataan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2015, persoalan yang belum tuntas di area wisata Labuan Bajo masih banyak. Biaya transportasi laut masih tergolong cukup mahal dan tidak terjadwal dengan baik. Sampah banyak berserakan di laut dan pinggiran jalan kota Labuan Bajo sehingga membuat wisatawan tidak nyaman. Pusat informasi pariwisata dan penunjuk arah untuk menuju destinasi juga kurang memadai. Lampu penerangan jalan masih minim. Dan masih banyak masalah akut yang kasat mata lainnya.

Persoalan-persoalan riil ini harus menjadi perhatian serius banyak pihak terkait, terutama pemerintahan daerah. Ketika sektor pariwisata sudah ditetapkan sebagai salah satu sektor unggulan dan penting bagi pengembangan ekonomi daerah, maka pembenahan banyak hal yang masih kurang baik ini sangat mendesak untuk dilakukan. Dengan demikian, kita bisa menjual wisata yang benar-benar berkualitas, yang mampu memikat banyak wisatawan. Ingat, produk yang jelek dan berkualitas rendah itu lama-lama akan ditinggalkan pelanggan.

Subscribe to receive free email updates: